Bahas Pilot Project, Bappeda Terima Kunjungan BPP Kemendagri

Dalam rangka membahas penerapan Pilot Project Inovasi Daerah, Tim Badan Penelitian dan Pengembangan (BPP) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) melakukan kunjungan ke Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Kulon Progo. Kunjungan ini diterima langsung oleh Kepala Bappeda Kabupaten Kulon progo, Triyono, S.IP., M.Si., pada hari Kamis (22/4) di Ruang Rapat Suroloyo. Selain perwakilan dari Bappeda Kabupaten Kulon Progo, turut hadir dalam pertemuan ini yaitu Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) serta Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos PPA) sebagai OPD pengampu satuan inovasi daerah.

Inovasi Daerah yang menjadi pokok pembahasan dalam kunjungan ini adalah “Satu Data” yang diampu oleh Diskominfo dan SiPeluru Jamesbon yang diampu oleh Dinsos PPA. Kunjungan ini dilakukan dalam rangka penerapan pilot project Inovasi Daerah. Inovasi Daerah “Satu Data” merupakan inovasi yang bermula dari ketidaksinkronan data antar instansi, sulitnya akses data antar instansi, dan perbaikan tata kelola data di Kabupaten Kulon Progo. Dalam penerapan “Satu Data” BPS dan Dinas Pertanahan dan Tata Ruang berperan sebagai Pembina Data, Bappeda berperan sebagai Koordinator, Dinkominfo berperan sebagai Wali Data, dan seluruh OPD berperan sebagai Produsen Data. Manfaat dari penerapan “Satu Data” adalah:

  1. Data tunggal terpusat;
  2. Terwujudnya data yang akurat dan berkualitas;
  3. Data mudah diakses oleh siapapun;
  4. Sebagai dasar perencanaan pembangunan;
  5. Sebagai acuan dalam pengambilan kebijakan;
  6. Terwujudnya transparansi data.

Produk akhir dari “Satu Data” adalah sebuah portal opendata yang reliabel dan dapat diakses oleh publik. Sedangkan Inovasi Daerah “SiPeluru Jamesbon” merupakan singkatan dari Sistem Pelayanan Umum Rujukan Jaminan Kesehatan Sosial Berbasis Online. Inovasi ini bermula dari permasalahan proses penjaminan yang panjang dan berbelit-belit mulai dari Rumah Sakit – Kalurahan - Dinsos PPA - Bapeljamkesos DIY - Rumah Sakit. Proses tersebut menghasilkan masalah waktu pengurusan menjadi panjang (2 – 3 hari), Ongkos biaya mobilisasi tinggi dan muncul risiko (perjalanan, deadline waktu, kepastian penjaminan, kekurangan persyaratan, kelelahan fisik dan pikiran, kemungkinan tersesat). Inovasi ini menyederhanakan proses di Bapeljamkesos menjadi berbasis online sehingga prosesnya menjadi lebih singkat dan mengurangi risiko-risiko/permasalahan yang telah dijelaskan di atas.